
Abu rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni lahir pada 4 september 973 M di Kath (Kiva sekarang). Sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan). Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Al-biruni dalam biografinya mengaku sama sekali tidak mengenal ayahnya dan hanya sedikit mengenal kakeknya.
Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-biruni juga fasih dalam beberapa bahasa seperti: Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.
Saat berusia 20 tahun, Al-Biruni telah menulis beberapa karya dibidang sains. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina, Imuwan besar Muslim lainnya yang begitu berpengaruh di Eropa.
Al-Biruni tumbuh dewasa dalam situasi politik yang kurang menentu. Ketika berusia 20 tahun, Dinasti Khwarizmi digullingkan oleh Emir Ma’mun Ibnu Muhammad dari Gurgan. Saat itu, Al-Biruni meminta perlindungan dan mengungsi di Istana Sultan Nuh Ibnu Mansur.
Pada 998 M, Sultan dan Al-Biruni pergi ke Gurgan di Laut Kaspia. Dia tinggal di wilayah itu selama beberapa tahun. Selama tinggal di gurgan, Al-Biruni menyeleseikan salah satu karyanya The Chronology of Ancient Nations. Sekira 11 tahun kemudian, dia kembali ke Khwarizmi.
Sekembalinya dari Gurgan, Al-Biruni menduduki jabatan terhormat sebagai pensihat sekaligus pejabat istana bagi pengganti Emir Ma’mun. pada 1017, situasi politik kembali bergolak menyusul kematian anak kedu Emir Ma’mun akibat pemberontakan. Khwarizmi pun diinvasi oleh Mahmud Ghazna pada 1017. Mahmud lalu membawa para pejabat istana Khwarizmi untuk memperkuat kerajaanya yang bermarkas di Ghazna, afganistan. Al-Biruni adalah seorang Ilmuwan dan pejabat istana yang ikut diboyong. Selain itu, ilmuwan lainnya yang dibawa Mahmud ke Ghazna adalah matematikus, Ibnu Iraq, dan seorang dokter, Ibnu Khammar.
Untuk meningkatkan prestise istana yang dipimpinnya, Mahmud sengaja menarik para sarjana dan ilmuwan ke istana Ghazna. Mahmud pun melakukan beragam cara untuk mendatangkan para ilmuwan ke wilayah kekuasaanya. Ibnu Sina sempat menerima undangan bernada ancaman dari Mahmud agar datang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya di istana Ghazna.
Meski Mahmud terkesan memaksa. Al-Biruni menikmati keberadaanya di Ghazna, Di Istana, dia dihormati dan dengan leluasa dapat mengembangkan pengetahuan yang dikuasainya. Salah satu tugas Al-Biruni adalah menjadi astrolog istana bagi Mahmud dan penggantinya.
Pada 1017 hingga 1030, Al-Biruni berkesempatan melancong ke India. Selama 13 tahun, dia mengkaji seluk-beluk India hingga melahirkan apa yang disebut Indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu dia mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakinan atau kepercayaan yang dianut masyarakat di subbenua India.
Al-Biruni meninggal pada 13 Desember 1048 pada umur 75 tahun.
Perjalanan Hidup
Nama lengkapnya adalah Abu ar-Raihan Muhammad bin Ahmad al-Khawarizmi
al-Biruni. Ia lahir di Khwarizm,
Asia Tengah, pada tahun 362 H (973 M). Tempat kelahirannya kini berada di
wilayah Uzbekistan, tepatnya di kota Khiva. Nama “al-Biruni” berasal dari
kata “Birun” dalam bahasa Persia yang berarti “pinggiran kota”, sesuai dengan
tanah kelahirannya yang terletak di pinggiran kota Kats yang merupakan pusat
kota Khwarizm.
Bahasa ibu al-Biruni adalah bahasa Persia, demikian juga kebudayaan masyarakat
kampung halamannya menginduk pada kebudayaan Persia. Selain bahasa
Persia, al-Biruni juga menguasai banyak bahasa lain, yaitu Arab, Iberia,
Suryani, Sansekerta, dan Yunani.
Selama tinggal di kampung halaman, al-Biruni sempat belajar astronomi dan
matematika dari Abu Nashr Manshur. Beliau adalah seorang ilmuwan yang
merupakan keturunan berdarah biru di wilayah Khwarizmi. Guru
sekaligus partner al-Biruni ini dikenal sebagai ilmuwan yang
banyak mengeksplorasi karya-karya ilmuwan Yunani, seperti Ptolemeus dan
Menelaus. Salah satu hasil pencapaian terbesarnya di bidang trigonometri
adalah persamaan yang disebut sebagai Hukum Sinus (The Sine Law).
Al-Biruni hidup semasa dengan ilmuwan Muslim lainnya yang cukup kontroversial,
yaitu Abu Ali al-Husin bin Abdullah bin Sina, atau yang biasa dikenal dengan
sebutan Ibnu Sina. Selain memiliki hubungan yang cukup akrab, keduanya
juga terlibat dalam perdebatan seru melalui korespondensi.[8]
Akhir
abad kesepuluh dan awal abad kesebelas Masehi adalah masa-masa yang penuh
pergolakan di wilayah Khwarizmi. Pada saat itu, Khwarizmi adalah bagian
dari sebuah negara yang pusat pemerintahannya berada di Bukhara. Ada
beberapa kerajaan lain yang berdiri di sekitarnya dan salah satunya adalah
dinasti Ghaznawi yang berpusat di Ghaznah, Afghanistan.
Pada
usia dua puluh tahun, al-Biruni pergi ke negeri Jurjan dan bekerja pada
Pangeran Syamsul Ma’ali Qabus bin Wasykamir. Pada kesempatan ini,
al-Biruni sempat berkenalan dengan para ilmuwan besar yang bekerja di istana
tersebut, salah satunya adalah Ibnu Sina. Di Istana Jurjan ini pula al-Biruni mulai menulis buku.
Sekitar
tahun 400 H (1010 M), al-Biruni kembali ke Khwarizm dan bekerja pada penguasa
Khwarizm pada saat itu, yaitu Abu Abbas al-Ma’mun atau yang biasa disebut
sebagai Khwarizmsyah. Al-Biruni diberi keleluasaan untuk melakukan
penelitian, sementara keadaan politik di Khwarizmi tetap penuh gejolak.
Pada akhirnya, Khwarizmsyah terbunuh dan Khwarizmi diambil alih oleh Dinasti
Ghaznawiyyah dengan rajanya Mahmud bin Sabkatkin atau Mahmud al-Ghaznawi.
Karena
kecerdasannya, Mahmud al-Ghaznawi membiarkan al-Biruni hidup. Al-Biruni
kemudian diajak ikut serta dalam ekspedisi penaklukan di India. Di India, Al-Biruni pun segera menyibukkan diri dengan meneliti corak
kehidupan masyarakat di sana. Karya al-Biruni tentang
India adalah salah satu masterpiece yang dikenang sepanjang
masa.
Setelah
tinggal cukup lama di India, al-Biruni pergi ke Ghaznah dan terus memelihara
hubungan baik dengan pihak istana. Al-Biruni melakukan penelitian dan
terus menulis hingga akhir hayatnya. Sepanjang hidup, al-Biruni telah
menulis tidak kurang dari 146 buku (sebagian ahli bahkan mengatakan bahwa
al-Biruni telah menulis 180 buku) yang terdiri dari 35 buku tentang astronomi,
4 buku tentang astrolab, 23 buku tentang astrologi, 9 buku tentang geografi, 10
buku tentang geodesi dan teori perpetaan, 15 buku tentang matematika, 2 buku
tentang mekanika, 2 buku tentang obat-obatan dan farmakologi, 1 buku tentang
meteorologi, 2 buku tentang mineralogi, 4 buku tentang sejarah, 2 buku tentang
India, 3 buku tentang agama dan filsafat, dan masih banyak lagi. Dari sekian
banyak, hanya 22 yang diketahui keberadaannya sekarang, dan 13 saja yang pernah
dipublikasikan.
Sebagian
besar sejarawan sepakat bahwa al-Biruni wafat pada tahun 440 H (1048 M),
kecuali sebagian yang berpendapat bahwa ia hidup hingga tahun 442 H (1050
M). Al-Biruni dikenang baik oleh dunia Islam maupun dunia Barat dan
mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai bentuk meskipun ia telah lama
wafat.
Astronomi
Al-Biruni adalah orang pertama yang melakukan eksperimen untuk memahami fenomena
astronomis. Di Khurasan ia mengamati dan menjelaskan secara rinci
peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan, sekaligus memberikan posisi
bintang-bintang secara akurat pada saat gerhana bulan.
Penemuan-penemuannya di bidang astronomi dimuat dalam salah satu karya
terbesarnya, yaitu kitab Al-Qanun Al-Mas’udi Fii Al-Hai’ah wa An-Nujum(didedikasikan
pada Mas’ud, putra Mahmud al-Ghaznawi) yang dikenal dalam bahasa latin
sebagai Canon Mas’udicus. Dalam buku ini, al-Biruni membuat
tabel astronomi sekaligus mengkritisi tabel-tabel astronomi yang dibuat oleh
para ilmuwan pendahulunya. Buku ini juga memperkenalkan teknik
perhitungan matematis untuk menganalisa percepatan gerak planet, sekaligus
menegaskan bahwa jarak antara Bumi dan Matahari lebih besar daripada yang
dikemukakan oleh Ptolemeus.
Kitab Al-Qanun Al-Mas’udi pertama kali dibuat untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan Mas’ud al-Ghaznawi yang begitu tertarik pada
sains dan mempertanyakan sebab terjadinya perbedaan panjang siang dan malam di
berbagai tempat di dunia. Sebagai ucapan terima kasih atas pembuatan
kitab yang tebalnya nyaris 1500 halaman itu, Mas’ud memberikan koin perak
sebanyak muatan seekor gajah. Al-Biruni menolak pemberian tersebut dan
memberikannya kepada Baitul Maal serta meyakinkan Mas’ud bahwa ia bisa hidup
tanpa kekayaan tersebut.
Al-Biruni memperkenalkan metode observasi astronomi baru yang disebut sebagai ‘observasi
tiga titik’. Sebelum era al-Biruni para astronom menggunakan metode Hipparchus
yang relatif tidak akurat, yaitu menggunakan interval musim untuk
memperhitungkan berbagai parameter yang berkaitan dengan matahari. Metode
perhitungan dengan observasi tiga titik ala al-Biruni adalah
kontribusi yang sangat penting dan masih digunakan enam abad setelahnya oleh
para astronom, antara lain Taqiyyuddin ad-Dimasyqi, Tycho Brahe dan Nicolaus
Copernicus.
Selain
menyumbang berbagai metode perhitungan dalam bidang astronomi, al-Biruni juga
menciptakan berbagai instrumen. Ia merumuskan pembuatan astrolab dan
planisfernya sendiri, juga merancang sextant yang
pertama. Al-Biruni juga menciptakan hodometer sederhana, dan kalender
lunisolar mekanik pertama yang merupakan contoh awal dari mesin pemroses
data. Dengan berbagai peralatan dan metode yang diciptakannya sendiri,
al-Biruni dapat menentukan kiblat dari tempat mana pun di muka bumi dan
menentukan waktu shalat secara tepat.
Ide dan
penjelasan mengenai ‘tabung observasi’ telah ditemukan dalam sebuah karya al-Biruni.
Meskipun tabung observasi sederhana ini tidak menggunakan lensa, namun
memungkinkan pengamat untuk memfokuskan pengamatan pada sebuah bagian langit
dengan menyingkirkan gangguan-gangguan cahaya. Tabung observasi ini
kemudian diadopsi oleh para ilmuwan setelahnya dan mempengaruhi perkembangan
teleskop modern.
Al-Biruni banyak membaktikan waktunya untuk mengamati matahari, pergerakannya,
dan fenomena gerhana. Ia juga salah seorang ilmuwan pertama yang
berpendapat bahwa Bumi berotasi terhadap sumbunya dan terlibat dalam berbagai
diskusi mengenai teori heliosentris.
Al-Biruni secara tegas menarik garis pembatas antara astronomi dan
astrologi. Ia adalah astronom yang secara tegas menolak astrologi karena
metode yang digunakan lebih berdasarkan asumsi belaka dan juga karena
pandangan-pandangan astrologi yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ilmu-Ilmu Kebumian
Al-Biruni memberikan banyak kontribusi dalam ilmu-ilmu kebumian. Karena
jasa-jasanya di bidang perpetaan, ia dinobatkan sebagai Bapak Geodesi. Ia
juga memberikan kontribusi yang sangat banyak dalam bidang ilmu kartografi,
geografi, geologi dan mineralogi. Pada usia 22 tahun, al-Biruni telah
menulis berbagai karya ilmiah, termasuk sebuah penelitian mengenai proyeksi
peta atau kartografi, yang di dalamnya tercakup sebuah metode memroyeksikan
sebuah hemisfer ke sebuah bidang datar.[14] Al-Biruni adalah salah satu
ilmuwan pertama yang menemukan metode untuk menentukan garis lintang dan bujur
secara akurat.[15]
Pada
usia 17 tahun, al-Biruni menghitung ketinggian kota Kath di Khwarazm. Ia
juga memecahkan persamaan geodesi yang rumit untuk menghitung diameter
Bumi. Hasil perhitungannya (yaitu 6.339,9 km) hanya meleset 16,8 km dari
hasil perhitungan modern, yaitu 6.356,7 km. Sementara para pendahulunya
menghitung diameter Bumi dengan mengamati matahari secara terus-menerus dari
dua lokasi yang berbeda, al-Biruni mengembangkan metode baru dengan
perhitungan-perhitungan trigonometri berdasarkan sudut antara suatu tempat di
dataran rendah dengan puncak gunung yang menghasilkan perhitungan yang lebih
akurat dan memungkinkan untuk dihitung oleh seorang pengamat dari satu lokasi
saja.[16]
Al-Biruni dikenal sebagai ilmuwan yang paling ahli dalam soal memetakan
kota-kota dan mengukur jarak di antaranya. Buku Al-Qanun
Al-Mas’udi-nya mencantumkan koordinat lebih dari enam ratus tempat di
dunia. Ia seringkali memadukan hasil pengamatan astronomi dengan
perhitungan matematis dalam mengembangkan metode-metode untuk menentukan lokasi
secara akurat. Teknik-teknik yang serupa juga digunakannya untuk mengukur
ketinggian gunung, kedalaman lembah, dan luas horison.
Dalam
bidang geologi, al-Biruni memberikan banyak sumbangan dalam menentukan masa
lalu sebuah negeri. Dengan mengamati bebatuan di India, ia berkesimpulan
bahwa dataran India dulunya adalah lautan yang kemudian menjadi dangkal oleh
endapan.[17] Ia juga menjelaskan bagaimana jazirah Arab dahulunya pernah
tenggelam di bawah laut dengan mengamati bekas-bekasnya pada batu dan karang.
Dalam
bidang pertambangan, al-Biruni menggagas dasar-dasar ilmiah bagi serta cara
menambang dalam bukunya Al-Jamaahir fii Ma’rifat Al-Jawaahir.
Buku ini menjelaskan berbagai macam logam, tempat-tempat asalnya, cara
mengeluarkannya dari tambang, campuran dan jenis kotoran yang ada padanya, dan
berbagai manfaatnya.[18] Al-Biruni melakukan ratusan eksperimen untuk
menghasilkan pengukuran yang terdokumentasikan dengan baik dalam berbagai bahasa.
Perhitungan berat mineral yang dilakukannya akurat hingga tiga angka desimal,
dan nyaris sama akuratnya seperti pengukuran modern untuk jenis-jenis mineral
yang sama.[19]
Fisika dan Matematika
Al-Biruni sejak dulu telah merumuskan gravitasi sebagai gaya yang menarik
segala benda ke arah pusat bumi.[20] Ia adalah ilmuwan pertama yang
melakukan eksperimen dalam bidang statika dan dinamika, khususnya dalam
menentukan berat spesifik. Melalui eksperimennya, al-Biruni berhasil
menunjukkan perbedaan berat antara air tawar dan air laut, dan antara air panas
dan air dingin.
Bersama
Ibnu al-Haitsam, al-Biruni adalah ilmuwan pertama yang menyadari bahwa
kecepatan cahaya dapat diukur. Ia juga yang pertama sekali menyatakan
bahwa kecepatan cahaya jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.
Al-Biruni menyanggah pendapat Galenus yang mengatakan bahwa cahaya bersumber
dari mata ke objek benda yang dilihat dan bukan sebaliknya.
Al-Biruni memberikan sumbangan yang sangat besar dalam disiplin ilmu
matematika, terutama dalam bidang aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus,
dan aritmetika. Dalam bidang aljabar, al-Biruni meneruskan pekerjaan
al-Khawarizmi dan memberikan banyak tambahan. Dalam bidang geometri,
al-Biruni adalah pelopor dalam merumuskan metode untuk menggambar pada
permukaan bola, juga menghitung diameter bumi dengan rumus-rumus
matematika.[21] Sebagaimana Abu Nashr Manshur, al-Biruni juga mahir dalam
menggunakan rumus-rumus trigonometri. Al-Biruni-lah yang pertama kali
memperkenalkan konsep tangen dan kotangen.[22] Al-Biruni juga menggunakan
prinsip-prinsip geometri untuk membuktikan rumus kalkulus yang ditemukan oleh
Tsabit bin Qurah. Penemuan ini di kemudian hari diklaim sebagai temuan
Isaac Newton oleh dunia Barat. Selain itu, al-Biruni menulis beberapa
buku tentang aritmetika. Ia juga memaparkan sejarah angka India dan
perpindahannya ke Arab serta pengembangannya kemudian.[23]
Kimia, Biologi dan Farmakologi
Bersama
al-Kindi dan Ibnu Sina, al-Biruni adalah salah satu ahli kimia pertama yang
menolak teori transmutasi logam sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian
ilmuwan pada masa tersebut. Al-Biruni juga menyusun kitab yang merupakan
ensiklopedi farmakologi yang merupakan gabungan dari seni pengobatan Islam
dengan seni pengobatan India. Dalam bukunya, al-Biruni memaparkan
penggunaan berbagai jenis tanaman, termasuk berbagai jenis jamur, untuk
keperluan pengobatan.[24]
Al-Biruni juga termasuk ilmuwan yang paling awal dalam mengamati
fenomena-fenomena ‘menyimpang’ pada tumbuhan, hewan dan manusia, termasuk
fenomena kembar siam. Ia juga mengamati fenomena perkawinan pada beberapa
jenis bunga.[25]
Pada
tahun 1051 M, Al-Biruni menulis sebuah kitab berjudul Kitab As-Saydalah(The
Book of Drugs). Kitab ini adalah salah satu karya ilmuwan Muslim
paling berharga di bidang farmakologi. Dalam buku ini ia memberikan
penjelasan mendetil tentang kandungan obat-obatan dan menggarisbawahi peranan
farmasi dan tugas-tugas seorang ahli farmasi.[26]
Ilmu-Ilmu Sosial dan Sastra
Di masa
mudanya, yaitu ketika masih tinggal di Istana Jurjan, al-Biruni telah meneliti
dan memperbandingkan banyak aspek dalam kehidupan berbagai bangsa. Ia
merangkum perbedaan sistem kalender dan hari raya bagi berbagai bangsa di dunia
dalam bukunya yang berjudul Al-Atsar Al-Baqiyah min Al-Qurun
Al-Khaliyah.
‘Antropolog pertama’ adalah gelar yang diberikan kepada al-Biruni, terutama
berkat penelitiannya yang komprehensif terhadap seluk-beluk kehidupan masyarakat
India. Ia sempat lama tinggal di India, dan waktu itu dimanfaatkannya
dengan menuliskan catatan yang lengkap tentang negeri itu, termasuk sejarah
politik dan militer, budaya, corak sosial, keagamaan, filsafat, sastra, adat
istiadat, dan tradisinya. Hasil penelitian ini dirangkum dalam masterpiece-nya
yang berjudul Tahqiq maa lii al-Hindi min Maqulah Maqbulah fi Al-‘Aqli
aw Mardzawilah. Karena penelitiannya yang sangat mendalam terhadap
kehidupan masyarakat India, seperti sudah disebutkan di awal tulisan ini, ia
pun dijuluki sebagai ahli Indologi yang pertama di dunia.
Buku al-Biruni tentang India menjadi rujukan para ahli hingga berabad-abad
setelah masanya. Sebagai cabang ilmu, Indologi sendiri baru banyak
ditekuni pada abad 18 Masehi, atau tujuh abad setelah era al-Biruni.[27]
Agama dan Pemikiran
Selain
sebagai ilmuwan, al-Biruni juga dikenal sebagai ahli agama. Ia memahami
filsafat Yunani dan filsafat India, sekaligus juga memberikan berbagai kritik
terhadapnya. Al-Biruni terlibat dalam perdebatan yang hangat dengan Ibnu
Sina mengenai pemikiran filsafat dan sufi. Al-Biruni adalah pengikut
aliran Asy’ariyah dan kerap terlibat dalam perdebatan dengan aliran
Mu’tazilah. Karena keseriusannya dalam mempelajari agama-agama, al-Biruni
pun dianggap sebagai pelopor yang mengilhami kelahiran ilmu perbandingan agama
sebagaimana yang dikenal kini.[28]
Al-Biruni juga tidak memisahkan antara agama dan sains. Baginya,
mempelajari fenomena-fenomena alam adalah sebuah kewajaran bagi manusia dalam
usahanya memahami kebesaran Allah SWT. Berbagai penemuan di bidang sains
semakin membuatnya yakin bahwa ada Sumber Kekuatan yang Maha Besar yang
mengatur alam semesta ini sehingga tercapai keteraturan yang sedemikian
rupa. Menurutnya, Al-Qur’an tidak pernah bertentangan dengan sains.
Indera pendengaran dan penglihatan dianggapnya sebagai modal terpenting karena
keduanya adalah alat bantu yang memungkinkan manusia untuk mengamati
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.[29]
Karena
keyakinannya terhadap ajaran Islam, al-Biruni senantiasa menolak segala asumsi
yang lahir dari khayalan. Dengan alasan tersebut ia menolak ilmu
astrologi dan filsafat India yang menurutnya lebih condong kepada ilmu
kira-kira belaka. Dalam segala hal, al-Biruni menghendaki dasar pemikiran
yang logis dan dapat dibuktikan secara empiris.
Hasil
dari pemikiran semacam ini adalah metode ilmiah yang selalu dipergunakan
al-Biruni dalam setiap penelitiannya. Al-Biruni adalah pelopor metode
eksperimental ilmiah dalam bidang mekanika, astronomi, bahkan psikologi.
Ia menghendaki agar setiap teori dilahirkan dari eksperimen dan bukan
sebaliknya.
Al-Biruni juga menekankan pentingnya melakukan eksperimen secara
berulang-ulang. Hal itu dianggap perlu untuk meminimalkan kesalahan yang
terjadi akibat kesalahan sistematis atau acak, misalnya kesalahan akibat
penggunaan instrumen-instrumen kecil atauhuman error. Jika sebuah
alat menghasilkan kesalahan acak karena adanya cacat maka eksperimen harus diulang
beberapa kali dan kemudian dianalisa secara kualitatif sehingga menghasilkan
penilaian yang tepat. Metode yang digunakan al-Biruni dalam
eksperimen-eksperimennya nyaris tak berbeda dengan metode penelitian yang
digunakan dewasa ini.[30]
Dalam
segala hal, al-Biruni memandang penting sikap objektif dan melepaskan diri dari
hawa nafsu yang dapat melalaikan manusia dari mendapatkan pemahaman yang
benar. Dalam kitab Al-Atsar Al-Baqiyah min Al-Qurun Al-Khaliyah,
ia berpesan dalam kata pengantarnya, “Kita mesti membersihkan jiwa kita dari
semua sebab-sebab yang membutakan manusia terhadap kebenaran – kebiasaan lama,
semangat berkelompok, persaingan pribadi atau nafsu (dan) keinginan untuk
mempengaruhi.”[31]
Meski
menyibukkan diri dengan mempelajari berbagai bidang keilmuan dengan serius,
al-Biruni juga dikenal karena sifat humorisnya yang seringkali mengejutkan,
namun digunakannya secara efektif. Salah satu contohnya adalah kata-kata
yang ia gunakan untuk memperkenalkan metodenya dalam menghitung diameter Bumi,
“Inilah metode lainnya untuk menentukan diameter Bumi. Metode ini tidak
mengharuskan kita untuk berjalan menembus padang-padang pasir.”[32]
Penghargaan
Segudang
prestasi yang telah ditorehkan oleh al-Biruni menjadikannya pantas untuk
menyandang gelar sebagai ilmuwan Muslim terbesar sepanjang masa. Bahkan
sebagian ahli di Barat sepakat untuk menyebut al-Biruni sebagai ilmuwan
terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia. Penghargaan diberikan bukan
saja karena penelitian-penelitiannya yang sangat cermat dan akurat, namun juga
karena penguasaannya yang sangat mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu
secara komprehensif dan fakta bahwa al-Biruni telah meletakkan dasar bagi
metode penelitian ilmiah yang tetap digunakan hingga lebih dari seribu tahun
setelah masa kehidupannya.
Al-Biruni telah memberikan sumbangan multidimensi terhadap dunia sains.
Karya-karya peninggalannya adalah bukti keluasan ilmunya terhadap berbagai
disiplin ilmu sekaligus. Kitab At-Tafhim li Awa’il Shina’ah
At-Tanjim, misalnya, dianggap sebagai karya yang mumpuni di bidang
astronomi[33] sekaligus juga sebagai karya besar yang paling terdahulu
mengenai ilmu-ilmu matematika.[34]
Selain
mendapat pujian dari umat Islam, al-Biruni juga mendapatkan penghargaan yang
tinggi oleh bangsa-bangsa Barat. Karya-karyanya melampaui Copernicus,
Isaac Newton, dan para ahli Indologi yang berada ratusan tahun di
depannya. Baik ulama maupun orientalis sama-sama memujinya. Dan
meskipun dipuji sebagai ahli perbandingan agama yang sangat objektif oleh
Montgomery Watt dan Arthur Jeffery, al-Biruni tak pernah menggadaikan
keimannya. George Sarton dalam bukunya yang berjudul Introduction
to the History of Science menyebut masa kehidupan al-Biruni sebagai
‘era al-Biruni’ (The Time of Al-Biruni), sekedar untuk menunjukkan
betapa besar dominasi al-Biruni dalam khazanah keilmuan dunia pada masa itu.
Sudah
tak terhitung banyaknya buku dan artikel yang didedikasikan untuk ilmuwan besar
yang satu ini. Akbar S. Ahmed menulis Al-Beruni : The First
Anthropologist pada tahun 1984. Pendapat al-Biruni mengenai
perbedaan astronomi dan astrologi dibahas secara khusus oleh S. Pines
dalam The Semantic Distinction between the Terms Astronomy and Astrology
According to Al-Biruni. Rafik Berjak dan Muzaffar Iqbal membahas
korespondensi antara al-Biruni dan Ibnu Sina dalam artikel Ibn Sina –
Al-Biruni Correspondence yang dimuat dalam beberapa edisi di
majalah Islam & Science. Kedalaman pengetahuan al-Biruni
tentang sejarah politik India dibahas oleh M.S. Khan dalam Al-Biruni
and the Political History of India. William Montgomery Watt membahas
secara khusus kepeloporan al-Biruni dalam ilmu perbandingan agama dalam
artikelnya yang berjudul Biruni and the Study of Non-Islamic Religions. Secara umum
nama al-Biruni tak pernah bisa ditinggalkan dalam pembahasan mengenai sains
dalam peradaban Islam.
Untuk mengenang al-Biruni, para ilmuwan astronomi memiliki caranya sendiri yang
sangat unik. Pada tahun 1970, International Astronomical
Union (IAU) menyematkan nama al-Biruni kepada salah satu kawah
di bulan.[35] Kawah yang memiliki diameter 77,05 km itu diberi nama Kawah
Al-Biruni (The Al-Biruni Crater).
Sumber
: Wikipedia dan Muslim Scientist and Thinkers
No comments:
Post a Comment